Cerpen: RAHASIA AYAH
RAHASIA
AYAH
“Sudah berkali-kali Ayah peringatkan, jangan seperti itu
di hadapan keluarga Ayah. Buat malu orang tua saja! Nanti mereka pikir Ayah
tidak pernah mendidik anak-anak Ayah,” omel pria separuh baya, berperawakan
tinggi tegap dengan wajah yang memerah bercampur amarah. Beginilah keseharianku
yang terpaksa harus terkena omel dan amuk amarah dari sosok pria yang kusebut Ayah,
karena ulah sanak saudaraku sendiri.
Ya, aku akui Ayah adalah pria berdarah koleris dan mudah
marah. Tak ada kata tak mungkin untuk planet bumi yang meledak jikalau ayah
bertemu denganku yang sama-ama berdarah koleris. Tak jarang Mama berujar
padaku, “Sabar sabar ya, Dik. Kalau tak sabar-sabar, mungkin Mama tak sesehat sekarang
ini.” Tak lebih dan tak kurang, seperti itulah kalimat yang sering terlontar
dari mulut seorang wanita separuh baya yang kupanggil Mama jika aku dan Ayah
sedang mengalami kontra.
Manusia mana yang tak naik pitam bila menyaksikan seseorang
yang berkecukupan, tapi malah mengaku tidak mampu. Bahkan, yang lebih
menganehkannya untuk makan mengaku susah, namun lain halnya untuk benda-benda
yang masuk ke dalam kategori tersier. Mungkin nominal dari benda yang telah
mereka beli itu setara dengan membagi-bagikan sembako untuk dua RT di
pelosok-pelosok kota. Inilah pro dan kontra yang sering terjadi di dalam lingkungan
keluargaku. Begitulah watak dari sanak saudaraku yang selalu mengaku sebatang
kara, realitanya tanah berantai dimana-mana. Aku tak pernah menerima pernyataan
yang selalu mereka nyatakan kepada Ayah bahwa mereka adalah fakir miskin yang
butuh santunan. Penolakanku inilah yang selalu memicu terjadinya kontra antara
aku dengan Ayah. Tidak ada seorang anak yang ingin melihat orangtuanya didustai
orang lain, apalagi begitu mengetahui bahwa yang mendustai adalah sanak
saudaranya sendiri. Namun, argumenku tak pernah diindahkan oleh Ayah. Ia lebih
mempertahankan jiwa dermawannya yang terlalu mudah untuk dijadikan aji mumpung
oleh orang lain, bahkan oleh keluarganya sendiri.
Sedari kecil, aku adalah seorang gadis kecil yang cerdas
dan bijak. Memang selain problema terkait sanak saudaraku, sikap pemberontak
yang menjadi sifat burukku hingga kini masih mengakar di aura tubuhku, pemicu
kemarahan Ayah dan Mama padaku. Tak jarang aku mendapat didikan keras dari Ayah
karena ulahku. Sisir, rotan kepang, sabuk, sapu lidi cocang. Semua benda-benda
itu telah kurasakan. Capnya yang membekas lumayan menghiasi kulit kuning
langsatku yang awalnya bersinar bak sang surya benderang, kemudian dengan seketika
berbaret-baret merah.
Pernah di Jumat siang, aku mendesak Mama untuk memberikan
kunci sepeda motornya dengan dalih untuk mengisi bensin. Sebenarnya tujuanku
hanya untuk menunjukkan kepada anak-anak sekompleksku yang angkuh bahwa aku
sudah dapat mengendarai sepeda motor. Karena aku terus mendesak dan memaksa,
akhirnya Mama memberikan kuncinya dan mungkin inilah ganjaran bagi seorang anak
yang berdusta dan tak mengindahkan perkataan orangtuanya. Yah, aku menghantam
sayap depan sepeda motor seorang ibu muda sehingga meninggalkan goresan di
bagian depannya. Hal ini sampai ke telinga Ayahku yang sedang dalam perjalanan
pulang ke ibukota Sumatera Utara. Kebetulan Ayahku bertugas di Simalungun,
sehingga sudah menjadi rutinitasnya untuk pulang setiap hari Jumat dan kembali
bertugas di hari Minggu. Betapa emosinya Ayah saat mendengar berita yang
disampaikan oleh Abangku. Tiba di rumah, Ayah pun menghukumku habis-habisan.
Tak makan dan tidur diluar rumah.
Terkadang aku pun sering berselisih dengan Ayah hanya
karena masalah kecil, namun Ayah selalu membesar-besarkannya. Hal itu kuanggap
terlalu hiperbola, karena aku tak menyukai suatu hal yang berlebih-lebihan. Aku
meresponnya dengan sikap yang menurutku biasa-biasa saja, namun tak layak menurutnya.
Habislah sudah aku dengan makian dan rutukannya. “Dasar anak tidak punya otak.
Percuma disekolahkan di tempat yang bagus dan mahal, tapi otak tidak dipakai.
Anak setan!” Itulah ucapan yang terlontar dari mulut Ayahku. Tentu aku tak
dapat menerima begitu saja ucapan yang terlontar dari bibir tebal pria separuh
baya itu. Dengan sifat pemberontakku, aku pun menggerutu, “Kalau aku anak setan
berarti Ayah setan juga dong. Amin, aminkan saja. Nanti kalau anaknya benar-benar
tidak punya otak baru tahu.” Mama selalu menasehati dan menabahkanku, “Jangan
begitu, Nak. Memang Ayah yang salah persepsi, tapi orang tua mana yang mau
disalahkan. Kalau kalian berdua mau menang sendiri, nanti kacau jadinya. Biar
tidak kacau, kitalah yang terpaksa harus memahami sifat Ayah kita yang keras
kepala itu. Jangan mengedepankan emosi dan egomu, Nak.”
Di hari selanjutnya pun aku tak luput dari problematika.
Selepas mengantar Abangku bimbingan belajar, aku dituduh menabrak anak suku
Nias yang masih kecil. Sebenarnya dialah yang menabrakku karena dia yang dengan
ringan kaki berjalan ke tengah-tengah jalan
raya tanpa pengawasan orangtuanya. Nasib baik yang menabraknya bukan truk
pertamina yang berjarak 200 meter dibelakangku. Kalau tidak, mungkin dia telah
tergilas habis oleh truk pertamina itu. Bagaimanapun juga tetap akulah yang
mereka salahkan karena aku mengendarai sepeda motor, sedangkan anak itu tidak.
Tentu hal itu menjadi tontonan gratis warga yang bertempat tinggal di sekitar
TKP. Habis aku dihakimi oleh sesepuh-sesepuh dari anak yang menabrakku. Mereka
memintaku untuk bertanggung jawab atas kejadian tersebut dan memanggil orangtuaku.
Mau tak mau, suka tak suka, aku terpaksa harus memberitahu Ayah. Tak dapat
terelakkan lagi, pasti aku akan diamuk Ayah. Namun, hal yang terpikir di otakku
berbeda dengan realita yang ditangkap oleh indera penglihatanku. Ayah justru
menanyakan padaku bagaimana kronologis kejadiannya tanpa harus membentak -bentakku.
Peristiwa itu mengundang pertanyaan besar yang timbul di pikiran dan benakku.
Kenapa ayah mendadak baik dan lembut padaku? Aneh-aneh saja. Tentu masalahku
diusut habis oleh Ayah. Faktanya Ayah tak terima jika aku yang disalahkan karena
kejadian tersebut bukan sepenuhnya menjadi kesalahanku. Walau diusut, Ayah
tetap dimintai pertanggung jawaban atas ulahku. Terpaksa Ayah mengantarkanku
pulang ke rumah terlebih dahulu barulah ia pontang-panting seperti orang
kebingungan untuk menuntaskan masalahku yang seharusnya tak menjadi masalahnya.
Di rumah, kembali kuputar ingatanku dimana Ayah
membentakku, merutukiku dan aku yang membenci sifat keras kepalanya. Lalu kukembalikan
ke peristiwa dimana aku dihakimi oleh warga sekitar TKP, namun dengan besar
hati Ayah melindungiku agar tidak ditindak dengan semena-mena oleh sesepuh-sesepuh
dari anak yang menabrakku. Sejak kejadian itu, hingga jarum jam menunjukkan
pukul 13 Ayah tak kunjung pulang ke rumah. Aku pun bertanya kepada Mama, “Ma,
tadi Ayah sudah makan siang atau belum? Terus sudah mandi?” Mama hanya merespon
pertanyaanku dengan gelengan kepala. Kembali Ayah menjadi pusat pikiranku
setelah menerima jawaban dari Mama. “Astaga, demi aku, Ayah rela berjam-jam
diluaran sana hanya untuk menyelesaikan masalahku tanpa memperhatikan dirinya
sendiri yang belum makan dan mandi. Hanya demi aku?” batinku.
Sejak peristiwa itu, aku baru menyadari bahwa dibalik
sifat keras dan tegasnya Ayah, ia memiliki berjuta-juta kasih yang begitu kuat
dan sangat besar untuk anak-anak, istri
dan keluarganya. Ia mendidikku dengan
caranya sendiri, karena yang diinginkannya hanyalah satu, agar anaknya
disiplin, berhasil, dihargai dan dapat menghargai orang lain. Tidak ada orangtua
yang ingin anaknya hancur. Pastinya ia menginginkan yang terbaik untuk
kehidupan anaknya. Mungkin tanpa peristiwa terakhir yang menimpaku, aku takkan
pernah mengetahui sosok Ayah yang sebenarnya. Aku bangga menjadi anak perempuan
dari seorang aparat Negara yang baik, cerdas, disiplin, gigih dan tegas.
Sifatnya yang membuatku bangga menghantarkannya menjadi danton terbaik selama
masa angakatannya.
“Selamat Briptu Wiwid. Tak salah saya memberikan lintu
dibahumu. Ayah dan anak memang tak jauh beda. Benar apa kata pepatah kalau buah
jatuh tak jauh dari pohonnya. Ya seperti kamu dengan Ayahmu. Hadirnya kamu di
kesatuan kami mengingatkan kembali hadirnya Ayahmu bersama kami,” ucap Pak Leo,
komandan kesatuanku.
Kini aku berusia 24 tahun, mengikuti jejak ayahku sebagai
pengabdi Negara, tepatnya aparat keamanan Negara Republik Indonesia. Berkat kasus
yang dapat ku tuntaskan dengan baik, menghantarkanku menjadi seorang Briptu muda. Mungkin tanpa didikan dan tempahan dari Ayah, keberhasilanku takkan
seperti ini. Berkat didikan disiplin dan gigih dari Ayah, selain menjadi
seorang Briptu muda, aku juga menjadi sarjana S1 Psikologi di salah satu
universitas swasta ternama di Sumatera Utara yang dengan mudah dan cepat dapat
kuraih gelarnya. Perjuangan Ayah untukku takkan pernah terlupakan. Didikan
keras dan tegas yang membuatku tak menyukainya malah menjadikanku seorang yang
berhasil.
Pagi yang cerah menghantarkan rombongan Tri Brata untuk
ziarah ke Taman Makam Pahlawan. Usai upacara yang khidmat, perhatianku tersita dan
terpaksa kutujukan pada sosok pria paruh baya lengkap dengan seragam dinasnya.
Sosok yang berdiri tepat disebelah makamnya itu pun tersenyum padaku. Air mata
pun tak terelakkan untuk tak mengalir. Ya, sosok itu adalah Ayah. Inginku
hampiri sosoknya yang sudah 4 tahun meninggalkanku bersama dengan Mama dan
Abang, namun perlahan-lahan bayangan Ayah mulai hilang dari pandanganku.
Kehadirannya yang seolah-olah nyata kembali mengingatkanku dengan pengorbanan
dan kasih sayangnya untukku. “Ayah, walau engkau telah tiada, namun engkau
takkan pernah hilang dari hati dan hidupku….”
"Memang kau diminta tuk
mendahulukan Ibumu, tapi Ayahmu adalah jiwa raga Ibumu."
TAMAT
Komentar
Posting Komentar